Panggil Aku ‘Abi’

taz Akhir-akhir ini telinga saya semakin mengakrabi dengan panggilan “Abi”. Kata yang berarti “Ayahku” ini selalu terngiang-ngiang sejak kelahiran putri saya yang pertama. Panggilan itu diungkapkan oleh lisan sang putri tentunya, yang bulan Oktober nanti berusia genap dua tahun. Sengaja atau memang sudah menjadi keharusan, saya kurang tahu pasti, yang jelas ini semacam kesepakatan bersama jika anak pertama sudah lahir maka saya akan dipanggil “Abi”

Boleh saya mengatakan bahwa kata dan panggilan “Abi” kepada saya adalah sebuah ungkapan yang bermakna. Minimal ada tiga hal bermakna disini. Hal yang sederhana dari pemanggilan ini adalah membiasakan putri saya yang masih batita untuk memanggil “Abi” kepada saya, bukan panggilan ”Ayah” dan juga bukan “Bapak”.

Mungkin akan ada yang komentar, apa sih bedanya? Khan sama saja.

Jelas berbeda dong, lha wong dari segi bahasanya saja sudah beda. Selain tentu ada pembiasan aspek keislaman disini.

Muatan lain yang terungkap dalam panggilan “Abi” ini sebuah makna isyarat bahwa saya telah menjadi orang tua dari seorang anak, sehingga dengan ini para kerabat, teman dan sejwat lainnya akan mudah mengetahui bahwa saya telah menjadi bapak. Yap, seorang bapak merangkap suami sebagai kepala keluarga.

Dan terakhir, makna panggilan “Abi” bagi saya adalah bermakna tanggung jawab saya sebagai Suami sekaligus Ayah dari anak-anak saya. Inilah makna yang terasa amanahnya dalam diri saya, karena kehadiran sang jabang bayi menambah satu tanggung jawab yang harus saya pikul baik dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang.

Pernah suatu hari istri saya mengatakan bahwa tanggungan saya bertambah satu yang berarti menambah jumlah tugas saya dalam mengemban amanah sebagai seorang Suami dan orang tua. Memang benar demikian adanya, seorang suami adalah Kepala Keluarga bagi istri dan anak-anaknya. Bahkan lebih tegas lagi Allah memberikan ketarangan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Tanggung Jawab seorang suami dan sebagai orang tua adalah dua hal yang sama pentingnya. Penjaminan akan keluarga adalah sesuatu yang mutlak dilakukan oleh seorang suami. Jaminan yang harus ditempuh dengan ilmu dan pengetahuan yang benar guna terlindunginya keluarga dari ancaman siksa api neraka. Inilah yang diisyaratkan dan diperintahkan oleh Allah untuk menjaga diri dan keluarga kita dari Api Neraka.

Sekarang dan yang akan datang akanlah tetap terngiang di telinga ini panggilan akrab dan penuh kasih sayang. Panggilan yang menandakan bahwa saya telah menjadi ”Bapak” dan memiliki tanggung jawab penuh baik secara moril maupun materiil terhadap anak-anak saya kini dan kelak nanti. Hanyalah ilmu dan pengalaman yang akan memberikan pengarahan guna menyelami samudera kehidupan rumah tangga. Hingga akhirnya saya dapat mempertanggung jawabkan semuanya di hadapanNya kelak dengan mudah dan selamat. Amiiin……………………………yaps..aku jadi “Abi” sekarang…..

Baby…

INi tazkiya waktu masih bayi….

waktu lahir beratku 2.8 kg dan panjang 4.7 cm lahir di Rumah Sakit Bersalin Buah Hati Ciputat – Tangerang. Pada malam lebaran tanggal 13 Oktober 2007 atau bertepatan dengan 1 syawal 1428 H. Karena aku lahir pada tanggal 1 syawal, maka orang tuaku memberikan nama Tazkiya FItraturrahmani. JIka diartikan maknanya menjadi Seorang anak yang Suci Bersih terlahir dari fitrah dan dalam lindungan Ar-rahman.

Fotoku yang lain :

alhamdulillah, berat badanku bertambah seiring usiaku. Ini berkat umi dan abi yang selalu memperhatikanku. Diberikan ASI yang terbaik….

Kisah Tazkiya

Ini adalah tentang sebuah kisah dari seorang yang bernama Tazkiya Fitraturrahmani. Anak yang pada tanggal 13 Oktober 2008 nanti genap satu tahun ini selalu saja meninggalkan kisah yang lucu dan menarik. Bukan karena masih teramat kecil usianya, tapi juga dikarenakan orang tuanya yang kegelian melihat tingkah lakunya. Masa tumbuh kembang dari bayi sampai dengan sekarang adalah masa-masa lucu bagi keluarga.

Maka, disini akan disajikan hal-hal lucu dan menggemaskan dari Tazkiya ini, Semoga bermanfaat yah.