Umbrellas alias payung

Umbrellas alias payung
Sedia-umbrellas- sebelum -rain
aaaalah
sedia payung sebelum hujan
sekarang kan musim hujan
nah,
nih ada koleksi payung buat kamu-kamu
yang dosan style
gaya

Pesan Singkat II

Menyambung pesan singkat yang terkirim pada bulan Ramadhan kemarin, kini saya berbagi lagi sebuah pesan singkat yang kedua. Mirip seperti tulisan bersambung atau cerita bersambung, tapi ini hanya mungkin saja disambung-sambungkan.

Memasuki bulan Syawal ini, selepas dari bulan Ramadhan ada ciri khas yang sudah mungkin membudaya, yaitu kirim-kiriman pesan singkat melalui media telekomunikasi, handphone dan lain sebagainya. Isi dari pesan singkat tersebut tak lain adalah ucapan selamat Idul Fitri dan maaf memaafkan.

Ada beragam ucapan yang masuk dalam inbox handphone saya, ada yang pendek, panjang, puitis, standar, dan bahkan ada yang memakai bahasa asing. Itu semua ada ekspresi! bagaimana orang mengirimkan sebuah pesan singkat yang memberikan rasa hormat dan sopan sebagai tanda permintaan maaf dan dimaafkan.

Ada satu hal yang menarik ketika saya membaca sebuah sms yang masuk masih dalam suasana lebaran, pesan singkat itu masih dari pengirim yang sama waktu bulan Ramadhan. Pesan singkat itu juga memiliki isi yang sama dengan yang sebelumnya.
Apa isinya ?

Isinya adalah : Perbanyaklah Do`a!

Walaupun dalam suasana lebaran, tapi tetap saja ‘beliau’ mengirimkan pesan singkat yang sama. Aneh? apakah aneh?
mungkin sebagian jawab : ya, dan bahkan ada yang jawab : ah biasa saja ga da yang aneh. Karena banyak juga yang sms seperti itu. Mungkin saja kita memang disuruh untuk berdo`a pada bulan Syawal ini, bahkan mungkin setiap waktu kita harus berdo`a.

Waktu berjalan hingga kemudian gempa itu terjadi, tepat pada tanggal 1 Oktober 2009 di Pariaman, Padang SUmatera Barat. Saya hanya bisa berkata :

Memang kita harus berdo`a!

Pesan Singkat

Ada pesan singkat yang disampaikan oleh seorang ustad pada saya, pesan itu berbunyi : Banyakin Do`a menjelang Ramadhan.

Singkat, padat, jelas dan penuh makna. Pesan ini disampaikan menjelang detik-detik Ramadhan, sehari sebelum pemerintah mengumumkan secara resmi awal dimulainya bulan puasa.

Saya tanya, kenapa ustad mengirimkan sms begitu singkat? Balasan beliau ” sekedar tausyiah”. Saya balas ” tuh kan ustad ni maunya yang singkat-singkat, jawabannya saja sesingkat itu. maksud saya apa gerangan dibalik tausyiah singkat itu?”

Lama saya menunggu balasannya, mungkin sang ustad sedang mengetik sms yang begitu panjang sebagai penjabaran atas pesannya di awal tadi.

Selang sekitar 15 menit, telepon genggam saya memanggil pertanda pesan masuk. “Nah ini dia balasannya”. Seraya membuka apa gerangan yang ditulis sang ustad.

“Banyakin do`a akhi, karena kita tidak pernah tau apakah kita akan sampai pada Ramadhan besok hari, walaupun Ramadhan sudah dipelupuk mata, tapi rangkaian hari masih terurai, detakan jarum jam masih berjalan, begitu pula dengan nyawa dan jiwa kita hanya Alloh lah yang memiliki, Siapa tau ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita, atau mungkin kita tak pernah sampai pada Ramadhan esok, Wallohu`alam”
…………….

Saya tutup pesan singkat beliau, tetap tersimpan hingga Ramadhan menjelang.

Marhaban Yaa Ramadhan,

Jendela Hati

Hanya ingin berbagi bait demi bait syair dari sebuah nasyid.

Nasyid yang diperkenalkan oleh istri saya ini adalah senandung lama yang ditorehkan oleh sebuah grup nasyid Saujana. Ada kedamaian, ada mimpi dan harapan dalam liriknya. Menghantarkan saat-saat awal perjuangan walimah waktu itu.

Seolah sebagai penggugah untuk bisa kembali pada hati yang bersih dengan beharap terbukanya jendela hati. Kembali nasyid ini dihadirkan untuk mengisi kekosongan hati atas kondisi, peristiwa dan kejadian belakangan ini.

Peristiwa dan agenda tahun ini adalah sebuah hikmah atas kejadian yang ditampakkan. Tahapan pemilu baik legislatif maupun pilpres, rebutan kekuasaan, kisruh sengketa pemilu sampai peristiwa pengeboman Jakarta.

Hati ini gusar, resah, galau…. politik dan persaingan, konflik dan kepentingan, terorisme dan islam.

Mungkin ini saatnya kita kembali, kembali pada hati. Setidaknya membuka jendela hati yang selama ini galau. Ada ruang ada relung yang bisa menerima semuanya, kembali pada fitrtah, suci, bersih untuk menggapai ukhuwah.

Ini adalah bait syairnya:

Aku ingin hidup secerah mentari
yang menyinar di taman hatiku
Aku ingin seriang kicauan burung
yang terdengar di jendela kehidupan
Aku ingin segala-galanya damai
mesra membuat ceria
Aku ingin menghapus duka dan lara
melerai rindu di dalam dada

Sedamai pantai yang memutih
Sebersih lukisan embunan pagi
Dan ukhuwah kini pasti berputik
menghiasai taman kasih yang harmoni

seharum kasturi
seindah pelangi
segalanya bermula di hati

Panggil Aku ‘Abi’

taz Akhir-akhir ini telinga saya semakin mengakrabi dengan panggilan “Abi”. Kata yang berarti “Ayahku” ini selalu terngiang-ngiang sejak kelahiran putri saya yang pertama. Panggilan itu diungkapkan oleh lisan sang putri tentunya, yang bulan Oktober nanti berusia genap dua tahun. Sengaja atau memang sudah menjadi keharusan, saya kurang tahu pasti, yang jelas ini semacam kesepakatan bersama jika anak pertama sudah lahir maka saya akan dipanggil “Abi”

Boleh saya mengatakan bahwa kata dan panggilan “Abi” kepada saya adalah sebuah ungkapan yang bermakna. Minimal ada tiga hal bermakna disini. Hal yang sederhana dari pemanggilan ini adalah membiasakan putri saya yang masih batita untuk memanggil “Abi” kepada saya, bukan panggilan ”Ayah” dan juga bukan “Bapak”.

Mungkin akan ada yang komentar, apa sih bedanya? Khan sama saja.

Jelas berbeda dong, lha wong dari segi bahasanya saja sudah beda. Selain tentu ada pembiasan aspek keislaman disini.

Muatan lain yang terungkap dalam panggilan “Abi” ini sebuah makna isyarat bahwa saya telah menjadi orang tua dari seorang anak, sehingga dengan ini para kerabat, teman dan sejwat lainnya akan mudah mengetahui bahwa saya telah menjadi bapak. Yap, seorang bapak merangkap suami sebagai kepala keluarga.

Dan terakhir, makna panggilan “Abi” bagi saya adalah bermakna tanggung jawab saya sebagai Suami sekaligus Ayah dari anak-anak saya. Inilah makna yang terasa amanahnya dalam diri saya, karena kehadiran sang jabang bayi menambah satu tanggung jawab yang harus saya pikul baik dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang.

Pernah suatu hari istri saya mengatakan bahwa tanggungan saya bertambah satu yang berarti menambah jumlah tugas saya dalam mengemban amanah sebagai seorang Suami dan orang tua. Memang benar demikian adanya, seorang suami adalah Kepala Keluarga bagi istri dan anak-anaknya. Bahkan lebih tegas lagi Allah memberikan ketarangan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Tanggung Jawab seorang suami dan sebagai orang tua adalah dua hal yang sama pentingnya. Penjaminan akan keluarga adalah sesuatu yang mutlak dilakukan oleh seorang suami. Jaminan yang harus ditempuh dengan ilmu dan pengetahuan yang benar guna terlindunginya keluarga dari ancaman siksa api neraka. Inilah yang diisyaratkan dan diperintahkan oleh Allah untuk menjaga diri dan keluarga kita dari Api Neraka.

Sekarang dan yang akan datang akanlah tetap terngiang di telinga ini panggilan akrab dan penuh kasih sayang. Panggilan yang menandakan bahwa saya telah menjadi ”Bapak” dan memiliki tanggung jawab penuh baik secara moril maupun materiil terhadap anak-anak saya kini dan kelak nanti. Hanyalah ilmu dan pengalaman yang akan memberikan pengarahan guna menyelami samudera kehidupan rumah tangga. Hingga akhirnya saya dapat mempertanggung jawabkan semuanya di hadapanNya kelak dengan mudah dan selamat. Amiiin……………………………yaps..aku jadi “Abi” sekarang…..

« Older entries